Rabu, 25 November 2009

Tindihan secara medis

“Sebel deh, lagi enak-enak tidur, tiba-tiba ditindih hantu. Badan tidak bisa gerak dan terasa dingin. Mau berteriak juga susah. Hantunya itu lho, serem banget!”. Menurut kepercayaan orang tua, seseorang mengalami tindihan dan “sesuatu” yang menindih itu adalah makhluk halus. Benarkah karena makhluk halus? Lalu bahayakah? Apa yang harus kita lakukan bila mengalaminya?

Makhluk Halus? Big No
Tenang, sebenarnya bukan sedang diganggu makhluk halus. Berikut ini penjelasan ilmiahnya. Menurut Sleep Technologist, Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, tindihan secara medis disebut sleep paralysis, suatu gejala dari gangguan tidur. Nah, saat tindihan sering terjadi halusinasi, seperti melihat makhluk halus. Makanya, tindihan sering dikaitkan dengan mistis.
Dr. Andreas menambahkan, tindihan biasanya terjadi menjelang tidur sehingga halusinasinya disebut sebagai hypnagogic (menjelang tidur), sedangkan halusinasi saat menjelang bangun tidur disebut hypnopompic (akhir tidur).

Antara Tidur dan Tindihan
Selanjutnya Dr. Andreas menjelaskan proses tidur hingga terjadinya tindihan. Berdasarkan gelombang otak, tidur dibagi menjadi tahapan-tahapan tidur. Mulai dari tahap tidur N1, N2, N3, dan R. Tahap N1 merupakan tahap tidur ringan karena masih setengah sadar. Dari tahap N1 semakin dalam ke N2 dan seterusnya. Tahap tidur R adalah tahap tidur dimana kita bermimpi. Ada dua hal yang khas yaitu adanya mimpi dan kelumpuhan otak besar. Saat bermimpi aktivitas otak mirip sekali dengan keadaan terjaga. Bedanya saat itu tubuh seperti lumpuh agar kita tidak bergerak sesuai mimpi.

Sleep Paralysis
Lalu bagaimana tindihan bisa terjadi? Ketika berada dalam ‘kondisi kurang tidur’ (bisa karena waktu tidur kurang atau waktu tidur cukup tetapi kualitasnya buruk), gelombang otak tidur kita seolah melompat dari tidur N1 ke tidur R. Akibatnya kita merasa seperti setengah sadar dan setengah bermimpi. Tiba-tiba kita melihat sosok menyeramkan dan kita tak dapat menggerakkan badan. Kondisi itu diperburuk dengan nafas yang berat, seolah sesak. Tubuh dan nafas yang sesak berkaitan dengan tidur R. Sebenarnya secara otomatis kita tetap bernafas. Dalam kepanikan, biasanya kita akan menarik nafas dalam. Untuk menarik nafas dalam dibutuhkan otot-otot pernafasan ekstra, yang celakanya pada tahap tidur R juga ikut dilumpuhkan.

Tidak Bahaya, tetapi...
Dr. Andreas menekankan, tindihan tidak berbahaya. Hanya saja jangan pernah dianggap remeh karena bisa jadi merupakan salah satu gejala gangguan tidur seperti narkolepsi, sleep apnea, gelisah, atau depresi.
Narkolepsi adalah gangguan tidur yang menyerang pusat pengaturan mimpi. Gejala lain dari narkolepsi adalah katapleksi dan rasa kantuk yang hebat. Penderitanya bisa tiba-tiba merasakan kantuk yang tak tertahankan, sehingga harus meluangkan waktu sejenak untuk tidur. Rasa segar hanya bertahan sebentar saja setelah tidur. Katapleksi merupakan episode melumpuh seolah mau pingsan yang terjadi setelah dipicu oleh emosi kuat, biasanya justru emosi gembira.
Nah, jika sudah cukup tidur namun masih sering mengantuk, itu merupakan gejala gangguan tidur yang lain. Contohnya saja penderita sleep apnea yang mendengkur. Mereka mengalami henti nafas saat tidur yang mengakibatkan kualitas tidurnya buruk. Akibatnya mereka selalu berada dalam ‘kondisi kurang tidur’ walaupun sudah cukup tidur.

Jurnal Tidur
Pesan Dr. Andreas, saat mengalami tindihan, berpikirlah tenang. Lupakan “penampakan-penampakan” yang Anda rasakan, dengan begitu kita bisa langsung tertidur atau bangun. Kalau sudah bangun, tinggal kembali tidur. Selain itu, Dr. Andreas mewanti-wanti kita untuk mencukupi waktu tidur.
Jika sering mengalami tindihan, Dr. Andreas berpesan untuk membuat jurnal tidur sebelum ke dokter. Jurnal tidur merupakan catatan kebiasaan tidur yang ditulis di pagi hari. Isinya berupa catatan waktu tidur, kebiasaan sebelum tidur, obat yang diminum, mimpi, apa yang dirasakan saat bangun, dan sebagainya. Jurnal itu akan sangat bermanfaat bagi dokter untuk menganalisa kebiasaan tidur Anda.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More